Laman

Senin, 19 Desember 2011

Peran Bidan Sebagai Peneliti dan Organisasi Profesi


PERAN BIDAN SEBAGAI PENELITI DAN
DALAM ORGANISASI PROFESI


Disusun Oleh :
Kelompok II ( dua )
Kelas IB
Nama                                                              NIM
1.    Vega Kusuma Putri                                      ( 110064 )
2.      Mia Ayu Nursanti                                        ( 110065 )
3.      Rea Ariyanti                                                 ( 110066 )
4.      Helma Vilanda                                              ( 110067 )
5.      Hardian Agustina Arista                             ( 110068 )
6.      Dewi marlina                                                ( 110069 )
7.      Dwi Asri Purmatasari                                  ( 110070 )
8.      Devi Rahma Nurvitasari                             (110071 )
9.      Adinda Marsha Nona Bela                         ( 110072 )
10.  Devi Rosalia Sari                                          ( 110073 )
11.  Ni Putu Laksmi Pradnyawati                     ( 110074 )
12.  Wahyuni Pratama                                        ( 110075 )

AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2011 / 2012
LEMBAR PERSETUJUAN

PERAN BIDAN SEBAGAI PENELITI DAN
DALAM ORGANISASI PROFESI

Dipersiapkan dan disusun oleh :
Kelompok II ( dua )
Kelas IB
Nama                                                               NIM
1.      Vega Kusuma Putri                                        ( 110064 )
2.      Mia Ayu Nursanti                                          ( 110065 )
3.      Rea Ariyanti                                                   ( 110066 )
4.      Helma Vilanda                                               ( 110067 )
5.      Hardian Agustina Arista                                ( 110068 )
6.      Dewi marlina                                                  ( 110069 )
7.      Dwi Asri Purmatasari                                     ( 110070 )
8.      Devi Rahma Nurvitasari                                ( 110071 )
9.      Adinda Marsha Nona Bela                            ( 110072 )
10.  Devi Rosalia Sari                                           ( 110073 )
11.  Ni Putu Laksmi Pradnyawati                         ( 110074 )
12.  Wahyuni Pratama                                           ( 110075 )

Telah disetujui untuk diseminarkan di depan penguji
Pada tanggal..............
Mengetahui, Dosen Pembimbing


                                                Nining Tunggal, SKM



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan karunia-Nyalah sehingga Penyusunan Makalah  ini telah dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini merupakan salah satu syarat sebagai pengganti UTS guna untuk mendapatkan nilai yang baik di mata kuliah Konsep Kebidanan di Akademi Kebidanan Yogyakarta.
Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1.        Drs. Henri Soekirdi, M.Kes. Selaku direktur Akademi Kebidanan Yogyakarta serta segenap jajarannya yang telah memberikan kemudahan-kemudahan baik berupa moril maupun materil selama pembuatan makalah ini.
2.        Nining Tunggal, SKM selaku dosen pembimbing.
3.        Supiyati S.SIT, M.Kes selakubidan yang mewakili
4.        Rekan-rekan semua di Akademi Kebidanan Yogyakarta
Serta kerabat-kerabat dekat dan rekan-rekan seperjuangan yang penulis banggakan. Semoga Allah SWT, memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.kami  menyadari makalahini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten.Amin.                                  
Yogyakarta, November 2011


Tim Penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................       i
LEMBAR PERSETUJUAN..............................................................................     ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................     iii
DAFTAR ISI .....................................................................................................     iv

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang........................................................................................      1
B.     Tujuan.....................................................................................................      2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.    Bidan ......................................................................................................      3
B.     Peran Bidan sebagai Peneliti ( Investigator ) .........................................      3
C.     Peran Bidan dalam Organisasi Profesi....................................................    11
D.    Macam-Macam Penghargaan Bidan.......................................................    13
E.     Kode Etik Kebidanan.............................................................................    16
BAB III LAPORAN HASIL KUNJUNGAN..................................................    19
BAB IV PENUTUP...........................................................................................    24
A.    Kesimpulan.............................................................................................    24
B.     Saran.......................................................................................................    24
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Bidan merupakan suatu profesi dinamis yang harus mengikuti perkembangan era ini, oleh karena itu bidan harus berpartisipasi mengembangkan diri mengikuti permainan global. Partisipasi ini dalam bentuk peran aktif bidan dalam meningkatkan kualitas pelayanan,pendidikan dan organisasi profesi. Peningkatan kualitas ini tidak luput dan tetap mengacu pada peran, fungsi dan tanggung jawab bidan.
 Oleh karena itu dalam pendidikan DIII Kebidanan yang nantinya akan mencetak calon bidan, diperlukan materi kuliah yang berkaitan denganperan dan fungsi bidan.Tugas, tanggungjawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa peraturan maupun keputusan menteri kesehatan ditujukan dalam rangka membantu program pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan AKI, AKP, KIA, Pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman dan KB.
Telah diketahui bahwa tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah penting di Indonesia. Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, terdapat 228 kematian ibu dalam 100.000 kelahiran hidup, sedangkanmenurut Human Development Report 2010, sejumlah 31 bayi meninggal dalam setiap 1.000 kelahiran hidup. Data ini menjadikan Indonesia dengan AKI dan AKB tertinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN.
Data survei demografi Indonesi tahun 2005 menunjukkan terdapat 228 kematian ibu dan 34 bayi meninggal dalam 1000 kelahiran hidup. Melalui program pos bhakti bidan, diharapkan angka kematian tersebut bisa menurun dan bisa mencapai target MDG (Millenium Development Goals) di tahun 2015, khususnya pada MDG poin 4 dan 5, yaitu menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan maternal.Sejak zaman sebelum masehi dunia kedokteran sudah mengenal kode etik yang dipergunakan untuk melaksanakan praktek kedokteran pada zaman itu. Kode etik merupakan suatu kesepakatan yang diterima dan dianut bersama (kelompok tradisional) sebagai tuntutan dalam melakukan praktik. Kode etik ini disusun oleh profesi berdasarkan keyakinan dan kesadaran profesional serta tanggung jawab yang berakar pada kekuatan moral dan kemampuan manusia.
Kode etik profesi merupakan suatu pernyataan komprehensif yang memberikan tuntutan bagi anggotanya untuk melaksanakan praktek dalam bidang profesinya baik yang berhubungan dengan klien/pasien, keluarga, masyarakat, teman sejawat, profesi dan dirinya sendiri. Namun dikatakan bahwa kode etik pada zaman dimana nilai-nilai peradaban semakin komplek, kode etik tidak dapat lagi dipakai sebagai pegangan satu-satunya dalam menyelesaikan masalah etik. Untuk itu dibutuhkan juga suatu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum. Benar atau salah pada penerapan kode etik, ketentuan/nilai moral yang berlaku terpulang kepada profesi.

B.     Tujuan
1.    Tujuan Umum :
Mahasiawa dapat memahami peran bidan sebagai peneliti dan dalam organisasi profesi
2.    Tujuan Khusus :
Mahasiswa mampu :
a.       Mengetahui Peran bidan sebagai Peneliti.
b.      Mengetahui Apa saja penghargaan Bidan(bidan bintang,bidan delima, bidan srikandi , BPS Teladan).
c.       Mengetahui Kode etik bidan terhadap profesi, hak dan kewajiban bidan.
d.      Mengetahui dasar hukum bidan sebagai tenaga professional.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Bidan
Bidan adalah profesi yang diakui secara nasional maupun internasional oleh sejumlah praktisi di seluruh dunia. Definisi bidan menurut Internatoinal Confederation of Midwives (ICM) tahun 1972 dan International Federation of Gynaecologist and Obstetritian tahun 1973, dan WHO :
Menurut Moeloek dalam Darwis (2002), mengemukakan Bahwa Bidan merupakan profesi & tenaga lini terdepan dalam pelayanan kesehatan reproduksi yg sangat diperlukan dalam wahana kesejahteraan ibu & anak di komunitas maupun di wahana politik.
Menurut Kepmenkes No.900/MENKES/SK/VII/2002. Bidan adalah seorang wanita    yang telah mengikuti program pendidikan kebidanan dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
Bidan adalah seorang wanita yg telah mengikuti dan meyelesaikan pendidikan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku,dicatat (registrasi), diberi izin secara sah untuk menjalankan praktik

B.       Peran Bidan sebagai Peneliti ( Investigator )
1.         Etika Penelitian
Peneliti adalah seseorang yang melakukan infestigasi atau penelitian baik secara mandiri maupun kelompok. Adapun tugas-tugas bidan sebagai peneliti antara lain :
a.    Mengidentifikasi kebutuhan investigasi yang akan dilakukan.
Di dalam langkah ini bidan sebagai tenaga kerja profesional tidak dibenarkan untuk menduga duga masalah yang terdapat pada kliennya. Bidan harus mencari dan menggali data atau fakta baik dari klien, keluarga maupun anggota tim kesehatan lainnya dan juga dari hasi pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan sendiri. Dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara anamnesa,pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda- tanda vital, pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang.
Langkah ini mencakup kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, data atau fakta untuk perumusan masalah. Langkah ini merupakan proses berfikir yang ditampilkan oleh bidan dalam tindakan yang akan menghasilkan rumusan masalah yang dialami/ diderita pasien atau klien.Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi yang akan menentukan proses intrepetasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya. Sehingga dalam pendekatan ini harus komprehensif meliputi data subyektif, obyektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi pasien yang sebenarnya dan valid. Kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.
b.    Menyusun rencana kerja pelatihan.
Rencana kegiatan mencakup tujuan dan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan intervensi untuk memecahkan masalah pasien atau klien serta rencana evaluasi.
c.    Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana.
Secara sistematis mengumpulkan data dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan dengan melakukan pengkajian yang komprehensif terhadap kesehatan setiap klien, termasuk mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanay meliputi apa apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antispasi terhadap pasien/ klien apa yang terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah merujuk klien, bila ada masalah masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi kultural atau maslaah psikologis. Dengan perkataan lain, asuhan terhadap klien tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan setiap aspek asuhan kesehatan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua pihak, yaitu oleh bidan dan klien/pasien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut.
Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
d.   Mengolah dan menginterprestasikan data hasil investigasi.
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah terhadap interpretasi atas data dat yang telah dikumpulkan.
Data dasra yang telah dikumpulkan diiterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan maslah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosa.
Diagnosa kebidanan dalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenkultur diagnosa kebidanan.
Standar nomenkultur diagnosa kebidanan :
1)        Diakui dan telah disahkan oleh profesi
2)        Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
3)        Memiliki ciri khas kebidanan
4)        Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan.
5)        Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.
6)        Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut.
7)        Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan mengembangkan program kerja atau pelayanan kesehatan.
8)        Melakukan penelitian kesehatan keluarga dan keluarga berencana.
2.         Dasar Hukum Peran Bidan sebagai Peneliti
Dasar hukum penerapan Standar Pelayanan Kebidanan adalah:
a.    Undang-undang kesehatan Nomor 23 tahun 1992
Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomer 23 tahum 1992 kewajiban tenaga kesehatan adalah mematuhi standar profesi tenaga kesehatan, menghormati hak pasien, menjaga kerahasiaan identitas dan kesehatan pasien, memberikan informasi dan meminta persetujuan (Informed consent), dan membuat serta memelihara rekam medik.
Standar profesi tenaga kesehatan adalah pedoman yang harus dipergunakan oleh tenaga kesehatan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesinya secara baik.
Hak tenaga kesehatan adalah memperoleh perlindungan hukum melakukan tugasnya sesuai dengan profesi tenaga kesehatan serta mendapat penghargaan.
b.    Pertemuan Program Safe Motherhood dari negara-negara di wilayah SEARO/Asia tenggara tahun 1995 tentang SPK
Pada pertemuan ini disepakati bahwa kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan kepada setiap ibu yang memerlukannya perlu diupayakan agar memenuhi standar tertentu agar aman dan efektif. Sebagai tindak lanjutnya, WHO SEARO mengembangkan Standar Pelayanan Kebidanan. Standar ini kemudian diadaptasikan untuk pemakaian di Indonesia, khususnya untuk tingkat pelayanan dasar, sebagai acuan pelayanan di tingkat masyarakat. Standar ini diberlakukan bagi semua pelaksana kebidanan.
c.    Pertemuan Program tingkat propinsi DIY tentang penerapan SPK 1999
Bidan sebagai tenaga profesional merupakan ujung tombak dalam pemeriksaan kehamilan seharusnya sesuai dengan prosedur standar pelayanan kebidanan yang telah ada yang telah tertulis dan ditetapkan sesuai dengan kondisi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY, 1999).
d.   Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan. Pada BAB I yaitu tentang KETENTUAN UMUM pasal 1 ayat 6 yang berbunyi Standar profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam melaksanakan profesi secara baik.
Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kebidanan serta penyelenggaraannya sesuai kode etik dan standar pelayanan pofesi yang telah ditetapkan. Standar profesi pada dasarnya merupakan kesepakatan antar anggota profesi sendiri, sehingga bersifat wajib menjadi pedoman dalam pelaksanaan setiap kegiatan profesi (Heni dan Asmar, 2005:29)
3.         Contoh aplikasi hasil penelitian Bidan
a.    Melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
IMD adalah proses membiarkan bayi menyusui sendiri segera setelah lahiran. Inisiasi Menyusu Dini atau disingkat sebagai IMD merupakan program yang sedang gencar dianjurkan pemerintah. Menyusu dan bukan menyusui merupakan gambaran bahwa IMD bukan program ibu menyusui bayi tetapi bayi yang harus aktif menemukan sendiri putting susu ibu. Program ini dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi yang baru lahir di dada ibunya dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu. IMD harus dilakukan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu.
Manfaat melakukan IMD :
1)        Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi sehingga mengurangi tingkat kematian bayi yang baru lahir.
2)        Gerakan bayi yang merangkak mencari puting susu dapat menekan rahim dan mengelurkan hormon yang membantu menghentikan pendarahan ibu.
3)        IMD membantu meningkatkan ikatan batin antara ibu dan anak.
4)        kulit ibu dapat menghangatkan bayi secara sempurna. Bila bayi merasa kedinginan, suhu tubuh ibu akan meningkat 2 derajat Celcius, sedangkan bila bayi kepanasan, kulit ibu akan menyesuaikan dengan menurunkan suhu sebanyak 1 derajat Celcius.
5)        Ternyata bayi-bayi yang di lakukan inisiasi dini lebih jarang menangis di bandingkan dengan bayi-bayi yang dipisahkan dari ibunya.
6)        Di banding bayi yang dipiosahkan dari ibunya, bayi-bayi yang di lakukan inisiasi dini mempunyai kemampuan perlekatan mulut yang lebih baik pada waktu menyusu.
7)        Untuk ibu pelepasan plasenta yang lebih cepat akan mengurangi resiko terjadinya pendarahan.
8)        Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah 6 bulan.
9)        Sentuhan, kuluman/emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting karena:
a)    Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan mengurangi perdarahan ibu.
b)   Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri (karena hormon meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita/bahagia.
c)    Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang berwarna putih) dapat lebih cepat keluar.
b.    Melakukan BOUNDING ATTACHMENT
Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan) jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi.
Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.Cara untuk melakukan bounding ada bermacam-macam antara lain:
1)        Pemberian ASI ekslusif
Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
2)        Rawat gabung
Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari.
Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga.
3)        Kontak mata
Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka, mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya.
4)        Suara
Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting. orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang. Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka.
5)        Aroma
Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya.
a)    Entrainment
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.
b)   Bioritme
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif.
c)    Inisiasi Dini
Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek suckling dengan segera.

C.      Peran Bidan dalam Organisasi Profesi
Dalam sejarah Bidan Indonesia menyebutkan bahwa tanggal 24 Juni 1951 dipandang sebagai hari jadi IBI. Pengukuhan hari lahirnya IBI tersebut didasarkan atas hasil konfrensi bidan pertama yang diselengarakan di Jakarta 24 Juni 1951, yang merupakan prakarsa bidan-bidan senior yang berdomisili di Jakarta.
Konfrensi bidan pertama tersebut telah berhasil meletakkan landasan yang kuat serta arah yang benar bagi perjuangan bidan selanjutnya, yaitu mendirikan sebuah organisasi profesi bernama Ikatan Bidan Indonesia (IBI), berbentuk kesatuan, bersifat nasional, berazaskan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pada konfrensi IBI tersebut juga dirumuskan tujuan IBI yaitu ;
1.         Menggalang persatuan dan persaudaraan antar sesame bidan serta kaum wanita pada umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa.
2.         Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan KIA serta kesejahteran keluarga.
3.         Membantu pemerintah dalam pembangunan nasioanl, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
4.         Mengingkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

VISI IBI
Yaitu Mewujudkan bidan professional berstandar global

MISI IBI
1.         Meningkatkan kekuatan organisasi
2.         Meningkatkan peran IBI dalam meningkatkan mutu Pendidikan Bidan
3.         Meningkatkan peran IBI dalam meningkatkan mutu pelayanan
4.         Meningkatkan kesejahteran anggota
5.         Mewujudkan kerjasama dengan jejaring kerja
Rencana Strategis IBI tahun 2008 – 2013
1.         Mengutamakan kebersamaan
2.         Mempersatukan diri dalam satu wadah
3.         Pengayoman terhadap anggota
4.         Pengembangan diri
5.         Peran serta dalam komonitas
6.         Mempertahankan citra bidan
7.         Sosialisasi pelayanan berkualitas
Prioritas Strategis
1.         Pengembangan standarisasi pendidikan bidan dengan standar internasional
2.         Meningkatkan pelatihan anggota IBI
3.         Membangun kerjasama dan kepercayaan dari donor dan mitra IBI
4.         Peningkatan advokasi kepada pemerintah untuk mendukung pengembangan profesi bidan serta monitoring dan evaluasi pasca pelatihan yang berkesinambungan
5.         Peningkatan pembinaan terhadap anggota berkaitan dengan peningkatan kompetensi, profesionalisme dan aspek hokum
6.         Peningkatan pengumpulan data dasar
7.         Peningkatan akses Organisasi Profesi IBI terhadap pelayanan dan pendidikan kebidanan
8.         Capacity Building bagi pengurus IBI
9.         Peningkatan pengadaan sarana prasarana
10.     Membangun kepercayaan anggota IBI, donor dan mitra dengantetap menjaga mutu pengelolaan keuangan yang account

D.      Macam-Macam Penghargaan Bidan.
1.         Bidan Bintang
Penghargaan yang di berikan dengan kriteria :
B       : bersih kerja dan hatinya
I        : ilmu mengikuti perkembangan
D       : dedikasi tinggi
A       : akurat dalam pemberian pelayanan
N       : nyaman bagi klien dilayani bidan
B       : ber KB
I        : pencegahan infeksi
N       : melayani intra dan post natal
T       : memberikan suntik tetanus
A       : mempromosikan ASI
N       : memperhatikan nutrisi ibu dan anak
G       : penanganan gawat darurat
2.         BIDAN DELIMA
Bidan delima adalah suatu program terobosan strategisang mencakup :
Pembinaan peningkatan kwalitas pelayanan bidan dalam lingkkup keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Untuk menjadi bidan delima, seorang bidan praktek swasta harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, yaitu :
Memiliki SIPB, bersedia membayar iuran, bersedia membantu BPS menjadi bidan delima dan bersedia membantu BPS menjadi bidan delima dan sedia menataati semua ketentuan yang berlaku. 
a.    Melakukan pendaftaraan di pemurus cabang
b.    Mengisi formulir prakualifikasi
c.    Belajar dari buku kajian mandiri dan mendapat bimbingan fasilitator
d.   Divalidasi oleh pasilitator dan dibewri umpan balik.
e.    Prosedur dilakukan terhadap semua jenis pelayanan yang diberikan oleh bidan praktek swasta yang bersangkutan
Penghargaan dari IBI :
1)        Anugrah delima
2)        Anugrah delima eka yasa
3)        Anugrah delima dwi yasa
4)        Anugrah delima tri yasa 
5)        Anugrah delima catur yasa
3.         Bidan Srikandi
Srikandi Award merupakan apresiasi bagi para bidan yang menjalankan program pembangunan kesehatan yang dijalankan oleh bidan yang melibatkan tokoh dan anggota masyarakat di tempat bidan tersebut berdomisili.
Tingginya angka kematian ibu dan bayi adalah faktor yang mendasari pemberian penghargaan bagi bidan teladan ini, terutama bidan yang melayani masyarakat di daerah terpencil dan tidak terjangkau tenaga kesehatan lain.
Dalam program pos bhakti bidan tersebut, panitia menyeleksi 145 bidan dari 500 proposal yang diajukan. Setelah melalui tahap sosialisasi, mentoring, monitoring serta evaluasi, akhirnya terpilihlah 10 bidan terbaik dalam menjalankan programnya sehingga bisa dijadikan model dan inspirasi bagi upaya pembangunan kesehatan yang dijalankan masyarakat.
Penghargaan atas jasa mereka dalam menyelamatkan ibu dan bayinya melalui proses melahirkan yang mereka bantu kini dirayakan besar-besaran.PT Sari Husada bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menganugerahkan Srikandi Award bagi 10 program Pos Bhakti Bidan terbaik untuk memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember. Srikandi Award yang digelar oleh PT Sari Husada dan IBI pun menggolongkan penghargaan pada tiga kategori, yakni kategori MDGs tujuan ke-4 yaitu menurunkan angka kematian bayi dan balita, MDGs tujuan ke-5 yaitu menurunkan angka kematian ibu melahirkan, serta bidan inspirasional.            
Srikandi Award merupakan apresiasi bagi para bidan yang telah menjalankan program pembangunan kesehatan yang melibatkan tokoh dan anggota masyarakat di daerah bidan tersebut tinggal. Selain untuk memberikan apresiasi atas upaya terbaik para bidan dalam mendukung pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) khususnya pada poin 1 (menghapus tingkat kemiskinan dan kelaparan), 4 (menurunkan angka kematian anak) dan 5 (meningkatkan kualitas kesehatan ibu), program ini juga diharapkan mampu menginspirasi dan mengajak pihak-pihak lain untuk berkomitmen dan berupaya mencapai target MDGs Indonesia di tahun 2015.
Sebagai catatan, diketahui bahwa tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah penting di Indonesia. Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, terdapat 228 kematian ibu dalam 100.000 kelahiran hidup, sedangkanmenurut Human Development Report 2010, sejumlah 31 bayi meninggal dalam setiap 1.000 kelahiran hidup. Data ini menjadikan Indonesia dengan AKI dan AKB tertinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN.

E.       Kode Etik Kebidanan
1.         Pengertian Kode Etik
Setiap profesi mutlak mengenal atau mempunyai kode etik. Dengan demikian dokter, perawat, bidan, guru dan sebagainya yang merupakan bidang pekerjaan profesi mempunyai kode etik. Kode etik merupakan suatu kesepakatan yang diterima dan dianut bersama (kelompok tradisional) sebagai tuntutan dalam melakukan praktik. Kode etik ini disusun oleh profesi berdasarkan keyakinan dan kesadaran profesional serta tanggung jawab yang berakar pada kekuatan moral dan kemampuan manusia.
2.       Kode Etik Profesi
Sejak zaman sebelum masehi dunia kedokteran sudah mengenal kode etik yang dipergunakan untuk melaksanakan praktek kedokteran pada zaman itu. Kode etik profesi merupakan suatu pernyataan komprehensif yang memberikan tuntutan bagi anggotanya untuk melaksanakan praktek dalam bidang profesinya baik yang berhubungan dengan klien/pasien, keluarga, masyarakat, teman sejawat, profesi dan dirinya sendiri. Namun dikatakan bahwa kode etik pada zaman dimana nilai-nilai peradaban semakin komplek, kode etik tidak dapat lagi dipakai sebagai pegangan satu-satunya dalam menyelesaikan masalah etik. Untuk itu dibutuhkan juga suatu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum. Benar atau salah pada penerapan kode etik, ketentuan/nilai moral yang berlaku terpulang kepada profesi.
3.         Tujuan Kode Etik
Pada dasarnya tujuan menciptakan atau merumuskan kode etik suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi. Secara umum tujuan menciptakaan kode etik adalah sebagai berikut :
a.    Untuk menjunjung tinggi martabat dan citra profesi
Dalam hal ini yang dijaga adalah image dari pihak luar atau masyarakat mencegah orang luar memandang rendah atau remeh suatu profesi. Oleh karena itu setiap kode etik suatu profesi akan melarang berbagai bentuk tindak tanduk atau kelakuan anggota profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi di dunia luar. Dari segi ini kode etik juga disebut kode kehormatan.
b.    Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota
Yang dimaksud kesejahteraan adalah ialah kesejahteraan materiil dan spiritual atau mental. Dalam hal kesejahteraan materiil anggota profesi kode etik umumnya menetapkan larangan-larangan bagi anggotanya untuk melakukan perbuatan yang merugikan kesejahteraan. Kode etik juga menciptakan peraturan-peraturan yang ditujukan kepada pembahasan tingkah laku yang tidak pantas atau tidak jujur para anggota profesi dalam interaksinya dengan sesama anggota profesi
c.    Untuk meningkatkan pengabdian para angota profesi
Dalam hal ini kode etik juga berisi tujuan pengabdian profesi tertentu, sehingga para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdian profesinya. Oleh karena itu kode etik merumuskan ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan oleh para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya.
d.   Untuk meningkatkan mutu profesi
Kode etik juga memuat tentang norma-norma serta anjuran agar profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu profesi sesuai dengan bidang pengabdiannya. Selain itu kode etik juga mengatur bagaiman cara memelihara dan meningkatkan mutu organisasi profesi. Dari uraian di atas, jelas bahwa tujuan suatu profesi menyusun kode etik adalah untuk menjunjung tinggi martabat profesi, menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota dan meningkatkan mutu profesi serta meningkatkan mutu organisasi profesi.




BAB III
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN
PERAN BIDAN SEBAGAI PENELITI DAN DALAM ORGANISASI PROFESI


Ibu Supiyati S.SIT, M. Kes adalah seorang bidan kelahiran Kebumen 14 Oktober 1959. Saat ini beliau berusia 52 tahun dan beragama islam. Status beliau sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak, anak pertama seorang perempuan dan yang kedua laki-laki.Riwayat pendidikan beliau dari SMA keperawatan,D1 kebidanan, D3 kebidanan, D4 kebidanan, kemudian S2 kebidanan. Pekerjaan beliau saat ini adalah Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) di Dinas Kesehatan Sleman, dan menjabat sebagai kepala seksi perizinan sarana kesehatan dan praktik perorangan. Sebelum menjadi PNS, beliau pernah bekerja di Rumah Sakit Bethesda dari tahun 1992 sampai 2006.
Sebagai BPS, ibu Supiyati mempunyai visi yaitu mencetak masyarakat mandiri dalam bidang kesehatan khususnya kesehatan reproduksi pada ibu dan anak. Sedangkan misi beliau adalah melayani masyarakat, memberdayakan masyarakat, dan mengajak masyarakat agar dapat berperan serta.
BPS Supiyati S,SIT. M. Kes pernah melakukan beberapa penelitian,  kurang lebih 3kali penelitian. Penelitian yang pernah beliau lakukan yaitu Beban bidan di pukesmas terkait dengan fungsional jabatan bidan, dengan cara mengumpulkan angka kredit yang sangat berpengaruh dalam kenaikan jabatan. Dalam melakukan pemeriksaan 1 pasien kurang lebih 10 menit. Penelitian lainya mengenai pencegahan kehamilan pada ibu yang menderita sakit malaria. Penelitian ini dilakukan oleh beliau di daerah Kulon Progo. Penelitian tersebut di ambil disana karena menurut beliau banyak ditemukan penduduk yang menderita penyakit malaria.
Ibu Supiyati memilih topik permasalah tersebut berdasarkan beberapa alasan yang mendasar yang antara lain, karena adanya masalah, dilihat dari segi kemanfaatan yang sangat baik bagi masyarakat maupun bagi keluarga beliau sediri, selain itu juga melihat dari segi kebutuhan instansi, dan juga tidak lupa mempertimbangkan dengan jumlah dana karena dana merupakan peran yang sangat penting dalam melakukan penelitian.
Program yang beliau terapkan dalam melakukan penelitian terutama adalah kesehatan ibu dan anak, dan profesi bidan dalam program yang ada pada organisasi IBI. Setiap penelitian juga tidak luput dari kendala. Kendala yang Ibu Supiyati alami misalnya kendala lokasi yang sulit dijangkau dengan kendaraan. Kendala tersebut yang memaksa beliau harus menelusuri dengan jalan kaki untuk pengambilan dan pengumpulan data (dikokap) dan hal itu yang membuat beliau semakin tertarik melakukan penelitian tersebut. Dalam pengumpulan data tidak cukup dengan 1 kali pertemuan sajatetapi harus berulang-ulang dalam bertanya pada masyarakat sekitar demi terkumpulnya data yang dibutuhkan dalam penelitian. Selain itu uang juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi, tetapi dalam hal ini ibu dapat mengatasinya. Dana penelitian tersebut didapat dari bank dunia di Amerika.
Kendala tersebut beliau atasi dengan cara memperpanjang waktu penelitian. Sedangkan masalah dana apabila belum keluar dari bank dunia, beliau megatasinya dengan memakai uang pribadinya dulu demi tercapainya kelancaran penelitian. Contoh masalah yang dihadapi ibu Supiyati dalam penelitianbeban bidan di pukesmas terkait fungsional jabatan bidan adalah tim beliauyang saling mengandalkan satu sama lain sehingga tidak tercapai targetnya.
   Suka duka Ibu Supiyati dalam melakukan penelitian hampir cenderung ke sukanya. Ibu Supiyati merasa senang karena hasil penelitiannya bisa bermanfaat bagi masyarakat khususnya bagi para bidan. Selain itu juga dapat menambah wawasan dan sebagai kontribusi organisasi. Yang membuat ibu Supiyati merasa bangga karena hasil penelitian beliau masih digunakan di instasi-instasi sampai sekarang. Sedangkan duka yang dirasakan hanya saat memakai uang pribadi beliau. Meskipun pada akhinya dana tersebut juga mendapat ganti. Tetapi bagi beliau itu tidak menjadi masalah yang serius kerena bagi setiap orang yang akan melakukan penelitian harus mempersiapkan baik moral maupun material.
Pengalaman beliau yang paling berkesan pada waktu penelitian salah satunya beliau menjadi lebih dekat dengan masyarakat, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Beliau juga dapat mengetahui wilayah-wilayah mana saja yang sulit dijangkau dengan transportasi. Beliau mempunyai beberapa cara mengaplikasikan penelitiannya kepada masyarakat dengan cara penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat dan memberikan informasi-informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Didalam penelitianya beliau juga mendapatkan penghargaan-penghargaan yang berupa sertifikat, piagam, dan bahkan berupa finansial. Penelitian beliau belum pernah mengalami kegagalan tetapi hanya sebatas mengalami kesulitan saja. Kesulitan-kesulitan tersebut sudah di jelaskan sebelumnya, seperti wilayah yang sulit dijangkau dengan transportasi dan lain sebagainya.
Menurut ibu Supiyati bidan sebagai peneliti adalah seorang bidan yang dapat menyumbangkan fikiranya kepada pemerintah yang dalam hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan bagi ibu dan anak serta masyarakat. Selain itu, seorang bidan juga dapat memberikan informasi-informasi yang diketahuinya kepada masyarakat, misalnya hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh masyarakat yang mungkin kurang dipahami oleh msyarakat itu sendiri.
Ibu Supiyati juga mengikuti beberapa organisasi profesi. Antara lain, IBI, Gabungan Organisasi Wanita ( GOW ) dan juga Pembinaan Kesejahteraan Keluarga( PKK ). Beliau bergabung dalam organisasi IBI sudah beberapa periode, sejak tahun 1998 sampai 2003 beliau sebagai seksi organisasi, 2003 sampai 2008 naik menjadi wakil ketua 2 bidan diklat, 2008 sampai sekarang sebagai kepala seksi bagian perizinan sarana kesehatan dan praktik perorangan.Bagi seorang bidan wajib mengikuti dan menjadi anggota IBI. Ibu Supiyati tertarik mengikuti organisasi-organisasi tersebut karena dapat menambah banyak teman, banyak pengalaman dan wawasan dalam berorganisasi, keinginan beliau untuk mengembangkan keorganisasianya, dan juga sebagai kontribusi kepada IBI. Saat menjabat sebagai wakil ketua 2 badan diklat, beliau sudah mengelola kurang lebih 3 sampai 5 ranting. Selain itu beliau juga memberikan motivasi kepada teman-teman sesama bidan dalam membuat angka kridit sebagai salah satu syarat kenaikan jabatan. Karena masih banyak bidan yang enggan membuat angka kridit meskipun mereka tahu bahwa angka kridit itu wajib bagi PNS maupun untuk kenaikan jabatan.
Ibu Supiyati dalam organisasi berperan sebagai tim penilai angka kridit. Tetapi sekarang beliau sangat berperan dalam perizinan sarana kesehatan dan praktik perorangan. Apabila seorang bidan bahkan doker menginginkan membuka praktik harus atas persetujuan atau tanda tangan beliau. Jadi peran beliau sangatlah penting bagi para bidan maupun dokter. Sedangkan di GOW “dharma pertiwi” beliau selalu mengikuti pertemuan-pertemuan dan bahkan mengisi pertemuan tersebut dibidang kesehatan.Manfaat yang didapat ibu Supiyati dalam berorganisasi salah satunya adalah menambah banyak teman, bisa bertukar pengalaman sesama bidan , menambah wawasan berorganisasi, dan ingin berkonstribusi dengan organisasi IBI.
Menurut Ibu Supiyati seseorang bidan harus mengikuti organisasi profesi karena sebuah organisasi merupakan wadah dalam mengapresiasikan pendapat dan dapat menambah pengalaman. Apabila seorang bidan ingin bergabung disebuah organisasi profesi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh bidan itu sendiri. Antara lain, yang pertama harus mendaftarkan diri, membayar iuran 10.000/bulan, memiliki Surat Tanda Registrsi ( STR ). Selain itu yang penting harus mendapat izin dari atasan langsung untuk mengikuti suatu organisasi diluar pekerjaanya. Dalam hal ini organisasi profesi seorang bidan adalah IBI, karena bagi seorang bidan mengikuti organisasi IBI merupakan suatu kewajiaban.
Selain itu, ada pula tugas yang harus dijalankan oleh bidan dalam organisasi profesi antara lain, mengenali kode etik bidan, serta menjunjung tinggi citra organisasi terhadap pemerintah, pekerjaan teman sejawat,  tenaga kesehatan lainya dan terutama pada diri sendiri.
Dalam berorganisasi ibu Supiyati juga mengalami permasalahan tetapi tidak begitu serius, karena permasalahanya hanya terletak pada teman-teman yang masih kurang menyadari akan pentingnya keikutsertaan dalam organisasi profesi, dan juga tingkat kerajinan yang masih kurang menurut beliau. Cara beliau mengatasi masalah tersebut dengan mengingatkan mereka baik secara langsung maupun melalui ketua rantingnya. Bahkan apabila diperlukan, dengan cara mengirimkan surat kepada bidan yang bersangkutan agar kesadaran berorganisasi sebagai anggota lebih meningkat dan lebih rajin dalam mengikuti organisasi profesi.
Surat Izin Bidan ( SIB ) harus selalu diperpanjang masa berlakunya karena SIB masa berlakunya hanya 5 tahun. Setiap 5 tahun sekali seorang bidan harus mengurus perpanjangan SIB, dan setiap perpanjangan harus sudah melakukan minimal 25 kali Satuan Kridit Point ( SKP) atau 25 kali seminar dalam jangka waktu 5 tahun.





BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Bidan sebagai peneliti adalah seorang bidan yang dapat menyumbangkan fikiranya kepada pemerintah yang dalam hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan bagi ibu dan anak serta masyarakat. Selain itu, seorang bidan juga dapat memberikan informasi-informasi yang diketahuinya kepada masyarakat, misalnya hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh masyarakat yang mungkin kurang dipahami oleh msyarakat itu sendiri.
Peran bidan dalam organisasi profesi merupakan suatu kewajiban yang harus diikuti oleh seorang bidan untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam berorganisasi demi kwalitas kerja bidan yang lebih baik. Dalam suatu organisasi seorang bidan dapat saling bertukar pengalaman dan perkembangan informasi terbaru dalam hal kebidanan. Organisasi yang wajib diikuti oleh setiap bidan adalah IBI.

B.       Saran
Hendaknya para bidan lebih giat melakukan penelitian untuk menambah wawasan dan kemudian hasilnya diaplikasikan kepada masyarakat.
Sebaiknya mahasiswa dapat memahami dan mengetahui peran bidan sebagai peneliti dan peran bidan dalam organisasi profesi.




DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Asri dkk . 2008 . Catatan Kuliah Konsep Kebidanan Plus Materi Bidan Delima . Yogyakarta : Mitra Cendikia Press
Soepardan, Suryani . 2007 . Konsep Kebidanan . Penerbit Buku Kedokteran EGC
Purwandari, Atik . 2008. Konsep Kebidanan: Sejarah & Profesionalisme
Ikatan Bidan Indonesia, Strategic Planning Ikatan Bidan Indonesia, Jakarta 1998.
Pengurus Pendidikan Tenaga Kesehatan, 1996, Konsep Kebidanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Pengurus pusat Ikatan Bidan Indonesia, 2001, 9 Modul kebidanan, BAB standar Kopetensi Bidan, Jakarta
Ikatan Bidan Indonesia, 2001, 50 Tahun IBI Menyongsong Masa depan, PP IBI, Jakarta

Internet:
Alvito. mamah,Sejarah Kebidanan, Januari 9, 2009.
anonim, Profesi bidan di Indonesia. November 2,2008
LAMPIRAN

Foto saat wawancara berlangsung                  Foto bersama setelah wawancara
  
            Tampilan depan tempat praktik                   SIB Ibu Supiyati
  
            Ruang tunggu BPS                             Tempat praktik atau konsul





    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar